Saya pindah rumah, dan sudah memindahkan barang-barang saya ke sini. Setelah terlena ber-blogspot ria, akhirnya saya dengan sangat emosional memutuskan untuk beralih ke wordpress.
Alasannya?
Saya sudah semakin familiar dengan wordpress, ada banyak template yang "lucu-lucu" di sana (gak penting), dan lagi beberapa waktu lalu saya baru membuka 2 blog baru di wordpress untuk menyimpan minat saya terhadap museum dan untuk mengarsip cerita-cerita saya. Jadi, akan lebih mudah me-manage semuanya dalam satu account saja.
Maka dengan berat hati saya ucapkan selamat tinggal pada blogspot, atas jasanya selama ini menampung blog saya, blogspot--yang jadi cikal-bakal saya nge-blog. Maaf karena akhirnya saya beralih ke wordpress. Saya merasa sedikit berkhianat hahaha, mungkin saya memang terlalu emosional.
Tapi, ah... selalu ada perpisahan di ujung jalan. Pertemuan lain menunggu.
Salam! Sampai jumpa di rumah baru saya! :)
Type rest of the post here
Thursday, April 10, 2008
:: pindah rumah (lagi)
whispered by
hanny
4
whisper(s)
Labels: others
:: mau punya foto gebetan?
Kemarin saya "bermain-main" di SMU 55 Pancoran, ikut bersemangat naik ke atas Eco Bus--bis ramah lingkungan yang didesain khusus dengan berbagai informasi interaktif seputar isu lingkungan hidup.
Juga sempat ikut berdendang menyanyikan lagu Burung Gereja yang dibawakan Nugie--salah satu lagu pertama yang saya kuasai ketika baru mulai belajar main gitar di SMP (ngomong-ngomong, saya tidak pernah mahir).
Tetapi, di luar itu, ada selembar selebaran tertempel di papan mading SMU 55 yang menarik perhatian saya. Judulnya sudah sangat provokatif dan membuat saya teringat pada jaman-jaman SMU dulu: "Mau punya foto gebetan?"
Siapa yang nggak mau? :)
Mungkin cara kerjanya seperti ini: jika kita punya gebetan, kita bisa menelepon nomor yang tertera (tiga nomor di belakang sengaja disamarkan), lalu bilang, "Gebetan saya si Fulan di kelas anu."
Lalu mungkin penyedia jasa akan memotret secara diam-diam sang gebetan itu, untuk kemudian diserahkan kepada pemesan. Apakah layanan ini gratis atau dipungut biaya tidak dijelaskan di sana. Teknis penyerahan foto juga tidak dijelaskan - mungkin dikirim lewat alamat email anonim yang sekali pakai, agar identitas si pemesan tetap tidak diketahui.
Sayang, saya tidak sempat melakukan konfirmasi dengan anak SMU 55 kemarin. Tapi ini adalah ide yang unik--terlebih di sebuah SMU :)
whispered by
hanny
1 whisper(s)
Labels: others
Monday, March 31, 2008
:: on happiness
Sabtu dini hari datang dengan secangkir kopi panas di tangan, lalu duduk di hadapan perempuan itu. “Hei, mari kita berbincang tentang kebahagiaan,” katanya.
Perempuan itu terkejut. “Mengapa kebahagiaan?” tanyanya sambil menerima secangkir kopi yang disodorkan Sabtu dini hari kepadanya.
“Entahlah,” Sabtu dini hari mengangkat bahu. “Hanya saja, belakangan ini kamu nampak tidak bahagia...”
Perempuan itu mendesah dan menyesap kopinya pelan-pelan, pikirannya tertuju pada sebuah percakapan yang berlangsung nyaris setahun lalu:
X: Mengapa kamu pikir aku dapat membuatmu bahagia?
Y: Entahlah. Jujur, aku tidak tahu apakah kamu dapat membuatku bahagia...
X: Jadi?
Y: Mungkin memang bukan kebahagiaan yang aku cari.
“Jadi, apakah kini kamu mencari kebahagiaan?” tanya Sabtu dini hari.
“Ya,” perempuan itu mengangguk. “Tapi... mengapa dulu aku tidak ingin mencarinya?” tanya perempuan itu, bingung. “Mengapa dulu aku menganggap kebahagiaan itu tidak terlalu penting, sehingga aku tak perlu mengejarnya?”
“Karena dulu kamu memilikinya,” Sabtu dini hari menjawab. “Jika kamu sudah memiliki kebahagiaan itu di dalam dirimu, tentu kamu tak perlu lagi susah-susah mencarinya. Justru karena kamu sadar bahwa kamu sudah kehilangan kebahagiaan itu, maka kini kamu mencarinya. Ingat, kamu sendiri yang pernah berkata: ‘kita tidak akan tahu betapa berartinya sesuatu itu, hingga sesuatu itu direnggutkan dari kehidupan kita’. Sesuatu itu bisa berupa kebahagiaan, kan?”
“Jadi apa yang harus aku lakukan?” perempuan itu bertanya, menatap Sabtu dini hari tepat di matanya.
Sabtu dini hari tidak menjawab, tetapi memutar sebuah lagu dari iTunes perempuan itu. Time After Time-nya Cindy Lauper.
“Kamu sudah mendapatkan sesuatu yang sejak dulu kamu kejar,” ujar Sabtu dini hari. “Tetapi ternyata, setelah mendapatkannya, kamu kehilangan kebahagiaanmu. Ini saatnya bagimu untuk memilih.”
Perempuan itu menghela napas panjang. Ia sudah tahu bahwa hidup penuh dengan pilihan-pilihan, namun tetap saja, ia selalu kesulitan ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan.
“Aku ingin mengingatkanmu pada sesuatu,” ujar Sabtu dini hari.
“Apa?” tanya perempuan itu.
Sabtu dini hari tersenyum. “Ada seseorang yang kukenal, yang pernah mengatakan bahwa ia ingin mengejar kebahagiaannya sendiri terlebih dahulu, kemudian baru membahagiakan orang lain. Karena seseorang tidak akan pernah bisa membagi apa-apa yang tidak ia miliki. Kita tidak akan bisa membahagiakan orang lain jika kita sendiri tidak bahagia.”
Perempuan itu tersipu. Ia tahu siapa seseorang itu. Dan ia tidak lupa.
“Aku hanya ingin bahagia,” ujar perempuan itu sambil merasakan kehangatan bagian luar cangkir kopinya dengan kedua telapak tangan.
“Kita semua menginginkannya,” Sabtu dini hari mengangguk. “Tetapi hanya mereka yang berani memilih kebahagiaanlah yang berhak mendapatkannya.”
whispered by
hanny
4
whisper(s)
Labels: life
Sunday, March 23, 2008
:: catatan kecil dari the scholar
Beberapa menit yang lalu, saya baru saja usai menyaksikan tayangan The Scholar—kompetisi memperebutkan beasiswa S2 yang dikemas dalam bentuk reality show. Dalam episode yang baru saja saya saksikan, dua tim yakni Black Coffee dan Mars in Venus ditugaskan untuk mengonsep sebuah community newsletter.
Saya tidak tahu persis brief lengkap yang diberikan, entah karena saya memang luput menontonnya (karena sempat ke dapur mengambil sop) atau memang tidak dipaparkan seluruhnya karena keterbatasan waktu.
Meskipun demikian, yang bisa saya tangkap adalah tiap tim diberikan tugas untuk membuat konsep community newsletter dengan target anak-anak usia 10-15 tahun, dengan tujuan meningkatkan gairah mereka terhadap dunia bulu tangkis, sehingga mereka terinspirasi juga untuk menggeluti bidang ini dan memungkinkan terjadinya regenerasi.
(Anyway, mungkin ada baiknya jika brief lengkap yang diberikan pada masing-masing tim ditayangkan di salah satu sisi layar—atau dibuat dalam bentuk teks di bagian bawah, sehingga para penonton bisa ikut mengetahui tugas dan batasan-batasan yang diberikan. Dengan demikian, para penonton juga bisa ikut berpikir dan membuat konsep).
Karena saya tidak tahu batasan atau aturan mainnya secara lengkap, saya pun tidak terlalu mengerti mengapa kedua tim lantas membuat advertorial. Saya pun tak tahu di media mana advertorial tersebut akan dipasang.
Tim pemenang (Black Coffee) mengambil konsep garis waktu di masa lalu, masa kini, dan masa depan—menggambarkan perkembangan dunia bulu tangkis kita dengan copy pahlawan-pahlawan bulu tangkis yang telah mengharumkan nama bangsa. Tim yang kurang beruntung (Mars in Venus) mengambil tema kartun dengan tokoh kok bulu tangkis.
Saya tidak tahu apakah memang dalam brief yang diberikan dikatakan bahwa tim-tim ini harus membuat konsep advertorial. Jika target mereka adalah anak-anak usia 10-15 tahun, apakah mereka akan terinspirasi dengan advertorial tersebut?
Lantas, jika advertorial ini akan dipasang di koran, apakah anak-anak usia 10-15 tahun ini membaca koran tersebut? Berapa besar biaya yang dibutuhkan untuk sekali saja memasang advertorial di koran, apalagi koran nasional?
Juri yang menentukan kemenangan tim yang bertanding dalam episode ini adalah seorang wartawan olah raga senior. Menurut saya, di samping kehadiran beliau, akan lebih menarik dan fair jika The Scholar benar-benar mengundang sekelompok anak usia 10-15 tahun untuk memberikan suara dan ikut menentukan tim yang menjadi pemenang. Bukankah anak-anak ini yang menjadi target “newsletter” tersebut?
Saya jadi ingat, sewaktu saya masih duduk di bangku SD-SMP dulu. Saat itu komik-komik Jepang tentang balet dan balerina merajalela (siapa ingat Mari-Chan?). Saya pun ingat, sejak saat itu banyak sekali teman-teman saya yang tertarik pada dunia balet.
Ternyata balet bukan hanya tarian, tapi di dalamnya ada cinta, masalah keluarga, intrik, persaingan, kecurangan, sekaligus prestasi, kebanggaan, dan kerja keras. Komik-komik ini menurut saya sangat menginspirasi dan menggugah ketertarikan pembacanya akan dunia balet.
Semasa SMA pun, komik sepak bola dari Jepang bertajuk Shoot begitu digemari. Kawan-kawan saya membahas berbagai teknik dan tendangan sepak bola dari komik itu dengan seru. Bagi kawan-kawan perempuan pun dunia sepak bola tiba-tiba menjadi menarik, karena dikemas dalam bentuk komik dengan jalinan cerita yang membuat penasaran.
Kalau dipikir-pikir lagi, apa yang gemar dibaca oleh anak-anak usia 10-15 tahun? Saya kira di antaranya ada komik (manga) dan teenlit. Mengingat ada banyak sekolah manga di luar sana saat ini, mungkin akan menarik jika membuat semacam community newsletter berbentuk manga, bercerita tentang kehidupan remaja-remaja di Pelatnas Bulu tangkis.
Intrik, persaingan, kompetisi, sedikit taburan kisah cinta, pengalaman dalam turnamen di luar negeri… semua diramu bersama teknik permainan bulu tangkis, latihan-latihan, trik-trik para pebulu tangkis kawakan dan keunggulan mereka... ah, begitu banyak yang bisa dieksplorasi.
Untuk melakukan hal ini, kerja sama dengan sekolah-sekolah manga yang ada bisa dijalin. Penerbitan bisa dilakukan secara mandiri, atau dengan dukungan dari PBSI, dan komik-komik ini bisa disalurkan ke berbagai sekolah di berbagai daerah sebagai koleksi perpustakaan.
Baiklah, usai sudah sesi berkhayal saya. Hahaha. Saya juga tidak bisa menggambar manga :)
whispered by
hanny
5
whisper(s)
Labels: others
Wednesday, March 12, 2008
:: kesal dengan burung biru
"Gusti Allah Maha Adil," demikian yang dikatakan jurnalis musik yang juga senang nge-blog ini ketika kami makan siang beberapa waktu yang lalu.
Kata-katanya terngiang-ngiang di telinga saya malam ini. Akhirnya saya kesal juga pada layanan taksi burung biru itu. Padahal saya termasuk pelanggan setia, dan beberapa pengemudi sudah mengenal saya. Bahkan ada yang sudah 2-3 kali mengantar saya ke Bogor di kala malam sudah merayap mendekati pukul 12.
Malam ini, baru beberapa menit yang lalu, saya menelepon untuk memesan taksi seperti biasa, disertai pesan, "Ini buat ke Bogor, ya, Mbak..." (karena takut ada yang sudah mau masuk pangkalan). Sudah capek, ngantuk... tiba-tiba saja si Mbak Kiki ini bertanya,"Bogornya sudah lewat terminal?"
"Iya. Lewat terminal belok kiri," jawab saya, tanpa prasangka. (Ya, iyalah. Secara terminal itu kan letaknya persis berseberangan dengan mulut keluar-masuk tol Bogor).
"Oh, kalau sudah lewat terminal nggak bisa, Mbak. Itu di luar batas operasi kami."
Aneh, sungguh aneh. Saya sempat speechless selama beberapa saat. Maksudnya? Saya sudah entah berapa puluh kali pulang ke Bogor dengan taksi burung biru selama beberapa tahun terakhir. Ini tidak masuk akal.
"Kok gitu? Biasanya saya pulang bisa-bisa saja."
"Harusnya nggak bisa, Mbak."
"Ya sudah, terserah. Turunkan saja saya di terminal," saya menggerutu. "Aneh!"
Huh. Saya masih kesal. Tapi... taksinya sudah datang. Kita lihat saja update besok pagi, saya diturunkan di mana. Di terminal, atau di depan rumah.
UPDATE:
Ternyata Pak Pengemudi tidak menurunkan saya di terminal. Saya sempat bertanya, "Kok operatornya bilang batas operasi Blue Bird hanya sampai terminal, sih, Pak? Ini pertama kalinya, lho, saya menelepon dan diberi tahu kebijakan demikian..."
Pak Pengemudi tertawa, "Wah, aneh memang, Mbak itu operatornya. Kita kan daerah operasinya Jabodetabek. Ngantar ke Bandung saja bisa, kok. Maklum, Mbak, operatornya kan beda-beda, mungkin nggak ngerti dia."
Karena malam itu jalanan lancar, saya sampai dalam waktu kurang dari 45 menit, Pak Pengemudi-nya juga menyetir mobil dengan sigap dan melayani dengan sopan, akhirnya saya pun menutup hari dengan nyaman.
PS: Mbak Kiki, coba dicek lagi kebijakan yang benar dari burung biru. Jangan sampai mengusir pelanggan yang ingin diantar ke Sukabumi atau Bandung karena diminta turun sampai terminal :) Oh, ya, maaf karena sebelum menutup telepon saya keceplosan mengatakan Mbak Kiki aneh. Saya sedang capek dan ngantuk, lalu dibuat terkejut. Jadi harap maklum ;)
whispered by
hanny
12
whisper(s)
Labels: others
Tuesday, March 11, 2008
:: kesan (dari malaysia)
Saya tidak akan membahas secara mendalam mengenai Pemilu di negara tetangga, Malaysia. Tetapi satu adegan kontras yang saya lihat di salah satu stasiun televisi minggu lalu, berkisah tentang kampanye menjelang Pemilu Malaysia, cukup meninggalkan kesan.
Di satu adegan, saya melihat kampanye yang mengingatkan saya dengan kampanye kebanyakan partai di Indonesia (tanpa bermaksud menggeneralisasi): duduk-duduk di bawah tenda sambil menyaksikan penampilan Siti Nurhaliza menyanyi di atas panggung, juga entah siapa membawakan lagu "Pilihlah Aku"-nya KD. Ternyata ini adalah kampanye ala Barisan Nasional...
Di adegan berikutnya, pada sebuah jalan yang diguyur hujan, ratusan massa berkumpul. Ada yang rela hujan-hujanan, memakai jas hujan sekadarnya, atau berlindung di bawah naungan payung. Di bawah hujan deras itu, seorang Anwar Ibrahim berorasi. Tanpa payung. Tanpa tenda. Kemudian pemimpin oposisi itu berkata (sambil mengusap rambutnya yang basah): "Ya, Anda basah, saya pun basah..."
Kontras di antara kedua adegan itu tetap tinggal. Saya bukan pengamat politik, juga tak terlalu tertarik mengamati peta perpolitikan negeri sendiri (apalagi negeri tetangga). Saya juga tak tahu apa saja yang selama ini sudah dilakukan Barisan Nasional dan partai oposisi. Saya hanya menonton tayangan pendek yang berlangsung tak lebih dari 30 detik itu.
Lama setelah semua orang lupa akan pesan-pesan, ketika euphoria berlalu dan kehidupan kembali berjalan seperti biasa, ternyata yang mampu untuk tetap tinggal hanyalah kesan...
whispered by
hanny
2
whisper(s)
Labels: others
Wednesday, March 5, 2008
:: prioritas, mana yang sangat penting, yang cukup penting, yang kurang penting, dan yang tidak penting?
Ketika berkunjung ke blog Mas Iman sore ini, saya menemukan posting-an berjudul Bahasa yang Tersirat. Di sini, Mas Iman mencoba 'menerjemahkan' bahasa iklan dari perang tarif para operator selular (kebetulan yang disinggung di sini adalah XL).
Ketika membaca postingan ini, saya otomatis teringat sebuah tulisan yang cantik di blog Precious Moments, perihal percakapan seorang anak laki-laki dengan ibunya. Begini bunyinya:
You: I wish you were mbak…
Me: What…??? Why…?
You: No, no…, I wish there were two of you, one is you as yourself and the other is you as mbak.
Me: Why?
You: Well, as mom, you can go to the office every day, and as mbak, you can pick me up from school every day
Me: Honey, you know that by going to work, I make money, and I can buy you toys.
You: What about other moms? They don’t go to work. Bude Vinny doesn’t go to work.
Me: Yes honey, but we are building our new house now, and it needs a lot of money,,,,
You: Well, bude Vinny is not working, but they have a house anyway…, so I don’t understand…
Lalu, apa hubungannya?
Jawab: skala prioritas.
Dalam hidup, kita memiliki skala prioritas yang berbeda. Sesuatu kita anggap sangat penting, mungkin dianggap tidak penting oleh orang lain, begitupun sebaliknya. Termasuk masalah tarif telepon selular.
Saya termasuk orang yang tak pernah peduli dengan perang tarif itu. Kenapa?
Pertama, saya sudah memakai nomor yang sama sejak pertama kali memiliki ponsel. Jadi nomor yang saya pakai sekarang adalah nomor yang sama dengan nomor yang saya pakai sewaktu masih di bangku SMU. Untuk saya, berganti nomor itu merepotkan. Saya harus mengabarkan pergantian nomor pada kawan-kawan, belum lagi jika ada kawan lama yang hendak menghubungi saya, ia harus mencari-cari nomor baru saya dan bertanya pada kawan-kawan saya yang lain. Untuk saya, nomor lama ini, yang sudah diketahui kawan-kawan, kerabat, dan kenalan, jauh lebih penting daripada tarif kartu GSM yang saya gunakan. Padahal ada teman saya yang berganti nomor hampir tiap 3 bulan sekali, sengaja memanfaatkan perang tarif para operator ponsel untuk mencari tarif termurah.
Kedua, saya bukan orang yang senang mengobrol di ponsel. Bagi saya, ponsel digunakan jika memang ada perlunya. Jika ingin mengobrol berlama-lama, marilah bertemu, makan siang, minum kopi, atau bahkan ber-YM ria. Tetapi tidak di ponsel. Saya tidak suka telinga saya panas jika mendengarkan orang berbicara di telepon (bahkan telepon rumah) untuk waktu yang terlalu lama. Menelepon untuk saya cukup 5-10 menit, dan tidak lebih, hanya untuk urusan yang penting-penting saja. Jadi tarif telepon juga tidak pernah terlalu menjadi masalah untuk saya.
Ketiga, saya rasa saya baru menjadi pelit ketika berurusan dengan membeli buku. Pelit di sini berarti saya tidak akan membeli komik (karena tipis dan cepat habis dibaca, harganya tidak sebanding). Saya akan membeli novel yang tebal atau buku impor yang sedang banting harga, karena untuk saya, uang yang dikeluarkan sebanding dengan kenikmatannya. Contoh lain, saya tidak pernah mau membeli Harry Potter edisi Bahasa Inggris karena harganya lebih mahal dari edisi Indonesia--sedangkan Harry Potter adalah jenis buku yang hanya akan saya baca sekali lalu teronggok di lemari.
Jadi saya rasa, skala prioritas setiap orang memang berbeda. Yang paling jelas adalah perbedaan mengenai apa yang dianggap penting oleh seorang anak kecil dan apa yang dianggap penting oleh orang dewasa. Persis seperti dialog cantik di posting Your Wish, My Wish dalam blog Precious Moments di atas.
Saya?
Oh, saya terkadang lembur, tertimbun segudang pekerjaan dan dokumen yang harus diselesaikan, bicara sendiri ketika stres dan merengut ketika rencana tak berjalan mulus. Saya juga masih suka makan es serut dengan sirup, hujan-hujanan, memainkan games 'bodoh' macam Lilo&Stitch dan Monsters.Inc di Playstation, keluar rumah bertelanjang kaki lalu menengadah memandangi bintang, atau bengong di jok belakang mobil, mengamati lalu-lintas sambil memikirkan sebuah cerita.
whispered by
hanny
9
whisper(s)
Labels: life
Thursday, February 28, 2008
:: yang baru
Ada beberapa hal baru yang saya gemari belakangan ini.


Yang pertama, blog baru di dagdigdug. Isinya desain-desain lucu, aneh, unik, nyeleneh, atau sekadar iseng pun boleh. Saya suka memposting di sana karena upload-nya cepat sekali, bahkan untuk gambar-gambar yang cukup besar sekalipun. Seru. Dan tiba-tiba Facebook saya jadi menganggur...
Yang kedua, minuman baru yang akhir-akhir ini menemani (variasi lain selain kopi dan air putih): Coca-Cola Zero. Kata ibu saya sodanya lebih "jreng" dibandingkan Coca-Cola yang biasa, enak diminum kalau sedang masuk angin, katanya. Kalau menurut saya rasanya sama saja dengan yang biasa, tapi karena tak ada kalorinya, secara psikologis saya jadi lebih suka yang ini hahaha :D
Yang ketiga, saya sedang jatuh cinta pada body mist Beauty Rush-nya Victoria's Secret yang Appletini--oleh-oleh dari teman saya. Wanginya itu, lho. Menyegarkan sekali. Kalau habis rasaya saya harus titip dia lagi, mungkin beli sekali dua. Saya tidak tahu di sini sudah ada yang menjual atau belum. Kalau tahu tempat yang menjual si Appletini ini kasih tahu, ya...
whispered by
hanny
12
whisper(s)
Labels: others
Monday, February 25, 2008
:: tentang elitisme
Beberapa minggu yang lalu saya sempat 'ngampung' bersama beberapa kawan lama. Pergi ke perkebunan teh dan nyeker menyusuri jalan-jalan kampung sambil menjinjing sandal jepit di bawah guyuran hujan. Nongkrong di warung kecil sambil ngopi dan makan gorengan murah ketika kaki mulai kram karena kedinginan (bandel sih, memilih nyeker). Kemudian merendam kaki di pinggir sungai kecil dan ngobrol-ngobrol seraya duduk-duduk di atas rerumputan basah. Beberapa orang merokok, beberapa lagi mengunyah keripik pedas yang sudah agak melempem.
Tapi tak mengapa. Kami bahagia.
Kemudian menjelang makan siang, kami turun ke sebuah warung Padang. Menyantap masakan pedas dan minum teh tawar hangat memang paling cocok di kala hujan. Saat itulah kebahagiaan saya sedikit meredup ketika salah seorang teman tiba-tiba saja menyinggung beberapa kawan yang hari itu absen dari reuni kecil-kecilan kami.
"Bukannya mereka memang nggak akan mau diajak jalan-jalan begini? Mereka kan nongkrongnya di mall. Di kafe. Biasa, kelompok elitis. Nggak mau bergaul sama masyarakat kelas bawah. Hedonis. Ignoran. Males juga gue kalo mereka gabung..."
Walau ucapan itu bukan ditujukan terhadap saya, tetapi sebagai orang yang juga suka nongkrong-nongkrong di kedai kopi di mall, saya merasa kesal juga mendengar kesengitan dan keangkuhan yang tersirat dalam kalimat itu.
Saya menikmati menghabiskan waktu nyeker di bawah guyuran hujan atau memilih sepatu di mall, sebagaimana saya juga tidak pernah berkeberatan makan di restoran Jepang, atau menyantap mie ayam di Melawai yang letaknya di dekat bak sampah (jorok memang, tapi enak, kok. beneran. hehehe).
Saya jadi kesal karena elitisme dibawa-bawa di sini.
Sejak kapan tempat tongkrongan seseorang menjadi barometer penilaian akan kepedulian mereka terhadap sesama? Saya tahu kok dulu teman-teman saya yang gemar clubbing juga sering duduk-duduk di lapangan parkir dan merokok bareng satpam dan tukang parkir di sana, mengobrol ngalor-ngidul sambil menunggu subuh...
Yang demikian itu apa juga bisa disebut elitis? Ignoran?
Entahlah. Rasanya terlalu dini untuk mencap seseorang demikian.
Yang jelas, buat saya, kalau mereka yang mengaku 'peduli-dengan-masyarakat- kelas-bawah' juga enggan bergaul dengan mereka yang suka nongkrong di mall--dan tak suka ketika mereka yang gemar wara-wiri dari kafe ke kafe ikut nongkrong bersama di warung kopi, tanpa disadari mereka juga sudah menjadi kelompok yang 'elitis'--sebagaimana mereka istilahkan (atau tuduhkan).
Lagipula, bukankah kita tak ingin dikotakkan dalam kelas-kelas?
Kenapa kita tidak menerima semua orang dengan tangan terbuka, dan tidak buru-buru menghakimi? Bukankah kepedulian seseorang terhadap sesuatu tidak dapat dinilai berdasarkan apa yang nampak dari luar? Bukankah ketika tangan kanan memberi tangan kiri tak perlu tahu-menahu?
Dan benar, bahwa kita terkadang tak boleh masuk ke klub dengan mengenakan sandal jepit. Tapi rasanya tak pantas juga jika kita hendak jalan-jalan di gunung tetapi mengenakan sepatu stiletto dengan hak 7 senti.
whispered by
hanny
5
whisper(s)
Labels: life



